Akhirnya zidane cerita kenapa "nyeruduk" materazzi..
0 Perhatian Ditulis oleh : D'specialwan Pada 20:45:00Banyak kabar mengatakan bahwa materazzi menghina saudara dan ibunya
zidane sebagai pelacur... benarkah itu sebenarnya yang terjadi. ???
inilah kejadian sebenarnya.. ....
berikut wawancara Zidane dengan situs bola terkemuka (translate)
Goal : Apa yang terjadi di final malam itu..?
Z : Sejak awal ia (materazzi) memang melakukan provokasi kata-kata
kepadaku, namun aku anggap itu hal lumrah, Ferrara-pun pernah melakukan
itu.
Goal : Lalu..?
Z :namun pada pertandingan final itu, aku tak mampu menahan emosi karena ucapannya yang menjijikkan, bahkan sangat menjijikkan. ..!!
Goal : apa yang ia ( materazzi) ucapkan ?
Zidane : (diam sejenak) saat kejadian itu, materazzi terus menjagaku, ia menarik kaosku..
Zidane : aku katakan padanya " jangan menarik kaosku lagi, atau kau fans saya, akan kuberikan setelah pertandingan. .."
Lalu Materazzi marah, mengatakan " ya im your fans, and fans for your sexy mom and your sister, seperti pelacur..!!!
Zidane : Tapi aku masih sabar, mampu menahan emosi... tapi ia kemudian mengatakan sesuatu lagi...
Materazzi :Nyokap lo gila(Zidane Diam)
MATERAZZI :Satu keluarga loe gila(Zidane Diam)
Zidane :Akhirnya, saya pun capek mendengarkan dia, dan saya tinggal saja, tapi tiba tiba dia bilang sesuatu yang sangat menjijikkan dalam karir saya..!!.."
Materazzi :LO MANTAN PEMAIN PSSI ya ?
Zidane :Saya tidak terima, saya langsung saja seruduk!! biar mampus...
saya bilang ke dia "boleh hina keluarga tapi jangan bilang gue produk
PSSI."
JUST FOR LAUGH GUYS !!!
disadur dari milis PSIS
Kategori fenomena, Guyonan, Kehidupan ini, Sport
mengapa AMERIKA tidak berani menyerang INDONESIA
0 Perhatian Ditulis oleh : D'specialwan Pada 20:34:00"Pasukan AS juga tidak bisa jauh jauh dari pelaratan perangnya, karena di sekitar Base Camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap mempereteli peralatan perang canggih yang mereka bawa, lengah sedikit saja tank canggih mereka bakal siap di-KILO-in"
PENTAGON membayangkan jika AS terpaksa harus menyerang Indonesia, berapa kerugian yang harus di pikul pihak AS dan berapa keuntungan pihak Indonesia dari kehadiran tentara AS di Indonesia.
Begitu memasuki perairan dataran indonesia, mereka akan di hadang pihak Bea & Cukai karena membawa masuk senjata api dan senjata tajam serta peralatan perang tanpa surat izin dari pemerintah RI, ini berarti mereka harus menyediakan “Uang Damai”. Hitung berapa besarnya uang damai jika bawaannya sedemikian banyak ?
Kemudian apabila mereka mendirikan Base Camp militer, bisa ditebak, di sekitar Base Camp pasti akan dikelilingi oleh para penjual Bakso, es kelapa, A-qua, lapak VCD bajakan, sampai obral Cel-Dam (oopps…. J) Rp. 10.000/ 3 Pcs, belum lagi para pengusaha komedi puter yang bakal ikut mangkal di sekitar Base Camp juga.
Kemudian kendaraan-kendaraan tempur serta tank-tank lapis baja yang di parkir dekat Base Camp akan dikenakan retribusi parkir oleh petugas dari dinas perpakiran daerah. Jika dua jam pertama perkendaraan dikenakan Rp.10.000,- (maklum tarif orang bule…coy), berapa yang harus di bayar AS kalau kendaraan & tank harus parkir selama sebulan
Sepanjang jalan ke lokasi Base Camp, pasukan AS harus menghadapi para “Mr.Cepek” yang berlagak memperbaiki jalan sambil memungut biaya bagi kendaraan yang melewati jalan tersebut. Dan jika kendaran tempur dan tank harus membelok atau melewati pertigaan mereka harus menyiapkan Recehan untuk para “Mr. Cepek” tersebut
Suatu kerepotan besar bagi rombongan pasukan jika harus berkonvoi, karena konvoi yang berjalan lambat pasti akan dihampiri para pengamen, pengemis dan anak-anak jalanan. Ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi. Belum lagi jika di jalan bertemu polisi yang sedang bokek, udah pasti kena semprit karena konvoi tanpa izin. Bayangkan berapa uang damai yang harus dikeluarkan ?
Di Base Camp militer, tentara AS sudah pasti nggak bisa tidur, karena nyamuknya gede-gede kayak Vampire. Malam hari di hutan yang sepi mereka akan di kunjungi para wanita yang tertawa dan menangis. Harusnya mereka senang karena bisa berkencan dengan wanita ini tapi kesenangan tersebut akan sirna begitu melihat para wanita ini punya bolong besar di punggungnya alias “Sundel Bolong”
Pagi harinya mereka tidak bisa mandi karena di sungai banyak dilalui “Rudal Kuning” yang di tembakkan penduduk setempat dari “Flying Helicopter” alias WC terapung di atas sungai
Pasukan AS juga tidak bisa jauh jauh dari pelaratan perangnya, karena di sekitar Base Camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap mempereteli peralatan perang canggih yang mereka bawa, lengah sedikit saja tank canggih mereka bakal siap di-KILO-in
Belum lagi para curanmor yang siap beraksi dengan kunci T-nya siap merebut jip-jip perang mereka yang kalau di dempul dan cat ulang bisa dijual mahal ke anak-anak orang kaya yang pengen gaya-gayaan, yang lebih menyedihkan lagi badan pasukan AS akan jamuran karena tidak bisa berganti pakaian. Kalau berani nekat menjemur pakaiannya dan lengah sedikit saja, pakaian mereka sudah mejeng di pasar Jatinegara di lapak-lapak pakaian bekas
Peralatan telekomunikasi mereka juga harus dijaga ketat, karena para bandit kapak merah sudah mengincar peralatan canggih itu. Dan mereka juga harus membayar sewa tanah yang digunakan untuk Base Camp kepada Haji Husin, Bang Ro’ib, dan Engkong Jai’ para pemilik tanah. Di samping itu mereka juga harus minta izin kepada RT/RW dan kelurahan setempat, artinya berapa meja yang harus dilalui dan berapa banyak dana yang harus disiapkan untuk meng-amplopi pejabat-pejabat ini.
Para komandan di pasukan AS ini juga akan kena tugas tambahan mengawasi para prajuritnya yang banyak menyelinap keluar Base Camp buat nonton dangdut di RW-06, katanya ada “Inul Daratista” di sana
Maka, setelah menimbang cost and benefit akhinya Pentagon memutuskan TIDAK AKAN MENYERANG INDONESIA!!!
Tulisan Lama Thufail Al Ghifari dari http://thufailalghifari.multiply.com

NATURALISASI Tanya Track Record Tim Nasional Indonesia
0 Perhatian Ditulis oleh : D'specialwan Pada 22:31:00Di hari ketiga, dalam melakukan riset masalah 'naturalisasi' ini, kami diberi kesempatan tetap membedah para pemain 'naturalisasi' yang masih memiliki darah Indonesia, namun justru menanyakan prestasi dan karakter pelatih nasional.
Kebanggan Memakai Kostum Timnas
Saat menunggu sesi latihan di 8 lapangan milik sekolah Ajax yang legends itu, ternyata Brian Roy, dengan setia mau memberi masukan banyak, dan bahkan Brian Roy berujar, bahwa dirinya juga masih ada darah Ambon. Namun, saat usia muda, dirinya pernah mendengar kalau Simon Tahamata, yang juga legenda Ajax, pernah di tolak pemerintah Indonesia di jaman Ali Sadikin.
Salah satu pemain nasional Belanda di World Cup 1994 dan 1998 ini bertutur, bahwa jika ada tim pemandu asal Indonesia, sudah masuk Belanda tahun awal tahun 2000, mungkin bisa merayu Robin van Persie. Menurut Brian Roy, saat itu kondisi van Persie sedang labil dalam usia 17 tahun, bahkan kondisi psikologis mimbang mau bermain bola, atau terjerat dalam dunia kenakalan gank anak-2 muda di Rotterdam.
Sebelum dipilih KNVB sebagai young guns terbaik 2001, van Persie adalah bagian dari kumpulan anak- gandk kota besar seperti Rotterdam. Di mana pergaualannya bersama anak-2 imigran dari Suriname, Maroko, Nigeria dan kawasan imigran Karibia. Masih menurut Bryan Roy, yang ditunjuk menjadi pelatih Jong Ajax U-13, ternyata KNVB lebih jeli ketimbang scouting klub-2 besar, yaitu memberikan gelar sebagai pemain berbakat, sehingga motivasi van Persie tumbuh semakin percaya diri.
PSSI, saatnya memberi tempat dan penghargaan kepada young guns-2 yang bermain di level turnamen Medco Cup, dan mereka diberi peran sebagai selebritis yang harus tumbuh dan percaya diri. Syamsir Alam, adalah sosok yang patut diberi peran itu untuk dicetak dalam event-2 tertuntu sebagai icon anak muda, agar bisa dijadikan contoh generasi di bawahnya. Hal itu, yang ditumbuhkan oleh KNVB, dan kemudian ditularkan ke semua klub anggota Liga Belanda.
Bryan Roy, sebagai salah satu pelatih pemula, dengan sertifikat D-3, untuk khusus anak-2 berbakat di Ajax, menanyakan tentang masalah keseriusan tim kami, jika ada 'naturalisasi'.
Salah satu pemanda tim kami, yang yaitu Polly Roemloes saat menterjemahkan dialognya dengan Brian Roy menyebutkan, bahwa salah satu hal yang terpenting bagi pemain 'naturalisasi' jika diinginkan sebuah negara, maka pertanyaan yang penting adalah mengenai data - data Timnas Indonesia dalam 5 tahun kebelakang ini, seperti :
1. Melawan siapa saja Timnas selama 5 tahun ini terakhir?Ddan berapa skor nya ?
2. Tournament / kualifikasi apa sajakah yang sudah dilalui Timnas selama 5 tahun terakhir ini ?
3. Hasil apa saja yang sudah diraih Timnas selama 5 tahun terakhir ?
4. Siapa pelatihnya ? Dan, bagaimana track record sang pelatih selama pegang di klubnya, termasuk menjuarai apa selama pegang klubnya, sekaligus latar belakang sang pelatih timnas?
5. Apakah PSSI memiliki profil Pelatih yang diusulkan untuk melatih Timnas ?
6. Progam latihan apa saja yang didapat sama pemain - pemain yang ada di Indonesia?
7. Apakah rencana PSSI dalam hal membangun infrastruktur timnas 5 tahun sampai 10 tahun ke depan, termasuk target-2 yang diinginkan PSSI ?
Karena tim kami sudah menyiapkan semuanya, maka Brian Roy membacanya dengan hati-2 melihat data-2 yang kami berikat. Dan, jawab Brian Roy, lebih bagus ada tim PSSI bisa datang ke Ajax untuk memohon pertimbangan sekaligus konsultasi. Karena, masalah pemerintah Belanda - Indonesia memiliki ikatan bantuan untuk 100 tahun, akibat 'dosa' Belanda kepada Indonesia.
Menurut Brian Roy, artinya Indonesia bisa meminta bantuan kepada pemerintah Belanda, agar ada instruktur - kepelatihan yang didatangkan ke Indonesia setiap tahunnya, untuk kegiatan 'pengetahuan - ilmu' sepak bola untuk sekolah-2 ataupun utuk pembinaan klub anak-2 muda (maksudnya SSB).
Saya teringat dengan wejangan Henk Wullem, mantan pelatih Bandung Raya, saat menjuarai Liga Indonesia 1995-96. Bahwa, jika pemerintah Indonesia serius berssama PSSI, maka pemerintah Belanda pasti akan membantu dengan gratis tanpa mengeluarkan uang, karena pemerintah Belanda memiliki 'hutang dosa' kepada pemerintah Indonesia, dan gantinya semua 'ilmu pengetahuan' di segala bidang akan dikerahkan untuk Indonesia, jika pihak pemerintah Indonesia mau mengambil 'hutang dosa' tersebut.
Saat itu, Tri Goestoro, yang menjadi Sekjen PSSI di jaman Agum Gumelar sudah menyurati pemerintah dalam hal ini menteri luar negeri Indonesia. Namun, sepertinya action itu hanya sia-2. Dan, ternyata sampai saat ini, 'hutang dosa' ini masih bisa digunakan oleh lembaga-2 apapun di Indonesia. (dengan catatan, kalau mau dan ngotot).
Menurut Brian Roy, setelah membaca sepak terjang dan prestasi tim nasional selama 5 tahun terakhir. Disarankan agar bisa bertemu dengan Simon Tahamata, karena dia adalah satu-2nya pemain berdarah Ambon, yang peduli dengan pemerataan sepak bola di negara ketiga, seperti Indonesia. Dan, Simon Tahamata, memang di plot untuk membantu semua negara-2 yang sulit memajukan sepak bolanya. Mungkin di tahun 70-an mirip peran Wiel Coerver.
Ketika ditanya tentang anak-2 keturunan berdarah Indonesia, yang bermain di Ajax. Brian Roy menyebutkan, dua musim lalu ada dua pemain, yaitu Michael Timisela dan Christian Supusepa. Namun, musim ini hanya Christian Supusepa yang naik menjadi pemain reserve (pemain muda yang disiapkan menjadi pemain utama, di saat ada pemain inti Ajax Amsterdam yang cedera). Sedangkan Michael Timisela, sudah pindah ke VVV Verlo, anggora Divisi Satu Liga Belanda.
M.Timisela
Menurut Bryan Roy, Michael Timisela, dulu seingatnya di posisi bek tengah, bisa bermain sebagai libero dan juga bermain stopper. Usianya juga sudah 23 tahun. Mungkin, karena merasa sulit bersaing dengan pemain lainya, Michael Timisela pindah. Kalau mau melihat raport-nya ada di database Ajax, dan bisa diminta jika diperlukan.
Sedangkan Christian Supusepa, sepertinya masih dipertahankan oleh pelatih senior Ajax. Karena di posisi bek kiri, Ajax Amsterdam sepertinya masih membutuhka tenaga Supupesa, walaupun posisinya sebagai tim reserve.
C.Supusepa
Bryan Roy, juga mengatakan nanti malam, ada pertandingan Ajax Reserve bertandingan dengan salah satu tim reserve sesama agngota Liga Belanda. "Silahkan bisa nonton Christian Supusepa di lapangan utama, " katanya.
Setiap tim reserve (tim cadangan) setiap klub di Belanda, diwajibkan bertanding dengan sesama tim reserve, agar kondisinya dan mental bertandingnya tetep bertanding. Kalau Di Inggris, justru tim reserve Manchester United yang dilatih Ole Gunnar Solkjaer, justru ada kompetisinya hanya di sekitar propinsinya saja.
Tim Reserve itu, adalah bagian sebuah klub yang penting dalam menjaga stabilitas teamwork tim utamanya. Sebagian dari tim reserve ini, para pemain yang dalam rangka penyembuhan cederanya. pemain yang cedera, diberi kesempatan pemulihannya masuk dalam skuad tim reserve.
Saya teringat, bahwa tim reserve di setiap klub anggota Super Liga Indonesia, tidak akan mungkin melakukan cara-cara seperti klub Eropa. Karena, pasti tak punya pengetahuan dan wawasan seperti itu dalam ofisial timnya. Jika, punya wawasan pun, pasti tak anggaran untuk memutar kompetisi tim reserve seperti itu.
Contohnya, rata-rata pemain anggota Super Liga Indonesia yang didaftarkan ke BLI adalah 24, bahkan Persiwa Wamena hanya punya 22 pemain. Sedangkan Persiwa U-21 yang juga diputar kompetisinya memiliki 20 pemain. Jika, tim Persiwa sedang berlaga ke daerah lain, maka tim yang dibawa hanya 18 pemain. Berarti, pemain yang ditinggal di kota Wamena hanya 6 pemain, kalau ada yang cedera bisa jadi tinggal 4 pemain. Maka, tak mungkin 4 pemain yang tersisa bertanding di level lokal, agar kondisi, skillnya terjaga seperti skuad intinya.Wong pemainnya tinggal 4, bagaimana bisa bermai sebagai tim reserve. Katakanlah, sisa dari U-21 juga ada yang tertinggal, maka jumlahnya hanya 2 pemain. Jadi, tetap tak mampu membuat tim reserve.
Ini hanya contoh kecil, dalam membangun sebuah klub yang kalau di Indonesia, katakanlah semi profesional, seperti saat ini. Tapi, buat Saya, semua anggota Super Liga Indonesia, masih amatir, karena tak punya modal dana (minta disusui APBD), tak punya tim reserve, tak punya stadion dan hanya punya fanatisme sempit dalam suporternya (maunya ingin menang melulu, tak mau melihat ada kekalahan, artinya belum mau dewasa, walaupun ada beberapa kelompok suporter yang mau diajak dewasa).
Bicara klub-2 elit seperti Ajax Amsterdam, selalu banyak cerita yang asyik-2 dan banyak nambah wawasan, serta bisa belajar tentang sifat-2 klub. Maklum kami-2 dari negeri sepak bola yang hanya sifatnya lebih ke hobi ketimbang membangun bola dengan bisnis. Bahkan, ketum-nya yang mantan 'narapidana' saja masih dipertahankan oleh 108 anggotanya yang sah sesuai statuta PSSI yang dikukuhkan AFC-FIFA, April 2009 lalu.
Kembali ke kawah candradimuka sekolah sepak bola Ajax. Malam harinya, Saya penasaran ingin melihat penampilan Christian Supusepa. Siapa tau bisa ngbrol atau mungkin bisa menggali lebih banyak tentang konsep bermain sepak bola, dalam usia yang benar-2 matang, sekaligus harus memilih jalan hidupnya, sekaligus punya feeling dalam dirinya sendiri.
Menurut Polly Roemloes, yang sering mondar-mandir sebagai orang yang terbiasa ngurus imigran-2 gelap di Belanda dari Indonesia. Menjelaskan dengan gamblang, apa saja yang menjadi pilihan hidup anak-2 keturuan asal Indonesia.
Jika, seorang berdarah Indonesia punya tekad menjadi pemain bola. Maka, urusannya adalah berkompetisi dan mengadu skill sekaligus berkerja ekstra keras, agar di usia muda sudah dibidik oleh KNVB sebagai salah satu kandidat masuk skud tim nasional U-17, U-19, U-21 yang bisa bermain di kompetisi level Eropa ataupun dunia.
Khusus, Christian Supusepa, adalah usia genting untuk memilih dan melihat kompetitornya di posisinya. Christian Supusepa yang bernomor punggung 42 di Ajax reserve ini, adalah mampu bermain sebagai bek kiri dan bek kanan. Bahkan, punya kemampuan bisa bermain sebagai sayap kanan ataupun sayap kanan. Jika dibandingkan, masa depannya bisa mirip seperti kapten Belanda saat ini, Giovanni van Bronckhorst yang juga sangat kental berdarah Ambon.
Tapi, di posisi seperti Christian Supusepa ada sekitar 20 pemain berbakat yang diincar untuk bisa masuk dalam seleksi tim nasional Oranye U-21. Dalam kondisi seperti itu, menurut Polly, pemain kayaki Christian Supusepa bisa grogi, atau pun bisa semakin percaya diri. Karena, faktanya dalam dua dekade ini, tim Oranye selalu punya pemain berdarah Indonesia (khususnya Ambon).
Menurut bapaknya, Christian Supusepa, dari cerita Polly - bahwa untuk memlih menjadi pemain nasional Indonesia,.mungkin, sebagai pilihan terakhir, artinya sampai usia 22 tahun nanti, Christian Supusepa masih punya peluang sama bagusnya dengan pemain asli Belanda, memperkuat tim Oranye. Dengan tinggi ideal 180 cm, Christian Supusepa memang layak memilih jalan hidupnya untuk timnas Belanda ketimbang timnas Indonesia. Tapi, menurut Polly, siapa tau Christian Supusepa bisa dibujuk oleh PSSI, dan mau bermain membela 'Merah Putih" semuanya tergantung Christian sendiri, dan sejauh mana PSSI serius mengurus semua perijinan yang dinginkan Christian Supusepa. Apalagi bicara melepas status kewarganegaraan, sepertinya PSSI tidak bisa leyeh-2, tapi harus 200% mampu memeras otak agar mampu membujuk anak-2 berdarah Indonesia.
Hanya saja, Saya berharap bisa nonton Christian Supusepa berlaga di pertandingan tim reserve itu harus menyesal. Karena, ternyata Christian Supusepa cedera, sehingga tidak mungkin masuk dalam skuad tim reserve. Hanya saja, pihak ofisial Ajax, masih memberi kesempatan untuk melihat pemulihan cedera Christian Supusepa di kamp sekaloh Ajax keesok-harinya.
Sementara dari sebagai tim riset 'naturalisasi' yang berbeda kota, saling kabar-kabari bahwa sebagian pemain yang bisa ditemui, rata-2 mau mengisi formulir yang kami sediakan dengan dua bahasa, ada yang berbahasa Indonesia dan ada yang berbahasa Inggris.
Dalam isi formulirnya itu, semua pemain mengisi data diri masing-2, dan ada tiga catatan penting yang kami tawarkan. Pertama, formulir ini tidak resmi. Kedua, formulir ini bukan formulir draft kontrak. dan ketiga, formulir ini hanya mendata semua pemain yang ingin dan berminat menjadi pemain nasional Indonesia
Kami sebetulnya hanya merasa senang, bisa meriset data pemain 'naturalisasi' yang tidak mahal ini, bisa mendapatkan pengalaman baru, wawasan baru, serta siap tidak menggunakan 'kacamata kuda' seperti kebanyakan pengurus dan ofisial bola di Tanah Air.
Harus diakui, bahwa sepak bola itu ternyata memang bukan milik asli bangsa Indonesia. Jadi, perlu dapat 'pengatahuan' tentang bola tidak hanya lewat internet, televisi ataupun denger-2, tapi bisa langsung mendata, melihat dan mendengar sendiri, cukup dengan modal 20 juta rupiah bisa dapat ilmu ke klub-2 Belanda, sama seperti ambil gelar S-2 dengan harga segitu.
Besok, ada cerita baru yang kebetulan diundang oleh gerombolan pemain bola yang bermain di klub-2 sekitar kota Eindhoven, bersama orang tuanya. Katanya, kami akan disambut oleh Mohamad Rigan Agachi, asli anak Indonesia yang main bola di Geldrop AEK, liga amatir kota Eidhoven, Belanda....
Kategori fenomena, Indonesia, Kehebatan Indonesia, Kehidupan ini, Sport

Sudah dirilisnya pembagian wilayah dalam kompetisi divisi utama 2009/2010 yang dikeluarkan oleh Liga Indonesia, dimana dari 34 tim peserta dikelompokkan menjadi 3 wilayah, dan PSIS dimasukkan ke wilayah Tengah bersama Persikad Depok, Persikota Tangerang, Persikab Bandung, Persis Solo, Gresik United, PPSM Sakti Magelang, Deltras Sidoharjo, Mitra Kutai Kartanegara, Pro Duta Sleman, Persidafon Dafonsoro, dan Persiba Bantul, setidaknya membuat tim PSIS sudah tahu siapa saja lawan lawan yang akan dihadapinya dalam penyisihan grup nanti.
Jika sesuai regulasi hanya akan diambil 2 tim teratas dari tiap wilayah yang maju secara otomatis ke babak 8 besar, ditambah 2 tim dengan poin terbaik diantara 3 tim urutan ke 3 di semua wilayah (Barat, Tengah, Timur) yang ada, maka tak ada kata lain buat PSIS selain membidik dan menargetkan diri untuk berada di urutan 2 teratas (ranking 1 atau ranking 2) klasemen akhir wilayah Tengah yang akan memainkan sistem kompetisi penuh tersebut. Artinya PSIS akan menjalani 11 laga kandang dan 11 laga tandang. Total 22x pertandingan.
Secara matematis, diperkirakan PSIS membutuhkan nilai kisaran 47 s/d 53 poin untuk mampu menembus peluang tersebut. Dari tim mana saja PSIS bisa mengambil angka penuh, dimana berpeluang seri, dan dari tim mana berpotensi kalah, berikut penulis akan mencoba memetakan kesebelas pesaing tersebut dalam 4 kategori. Dimana kategori tersebut didefinisi berdasarkan metoda pendekatan saat PSIS bermain away di kandang lawan.
Kategori pesaing berat, apabila saat main di kandang lawan, tim PSIS berpotensi kalah alias gagal membawa poin. Dimasukkan dalam kategori ini adalah tim Persidafon Dafonsoro dari tanah Papua.
Kategori pesaing setara, apabila saat bermain di kandang lawan, peluang PSIS antara menang dan kalah adalah fifty-fifty. Masuk dalam kategori ini adalah tim Deltras Sidoharjo dan Pro Duta Sleman.
Kategori pesaing kuda hitam, apabila saat bermain di kandang lawan, peluang PSIS untuk mendulang poin cukup besar, tapi bukan tak mungkin PSIS akan tergelincir jika lengah. Dimasukkan dalam kategori ini adalah Gresik United dan Mitra Kukar.
Dan yang masuk dalam kategori pesaing sedang adalah apabila PSIS bermain di kandang lawan sekalipun tetap optimis mampu meraih poin penuh. Masuk kategori ini adalah tim Persikad Depok, Persikota Tangerang, Persikab Bandung, Persiba Bantul, Persis Solo, dan PPSM Sakti Magelang.
PESAING BERAT (3 poin)
Sebagai tim dari tanah Papua, maka Persidafon Dafonsoro adalah pesaing paling berat yang pantas diwaspadai. Selain secara tradisional tim-tim dari tanah Papua memang terkenal kuat dan cepat secara teknis dan sangat lihai memainkan faktor non teknis, maka faktor wilayah geografis yang jauh terkadang membuat tim tamu sudah paranoid dan pesimis sebelum bertanding. Banyak tim yang sebenarnya punya kekuatan memadai, memilih berangkat away ke tanah Papua dengan kekuatan ala kadarnya dalam jumlah pemain terbatas. Menyimpan pemain inti dan memberangkatkan pemain cadangan. Dengan alasan demi efisiensi biaya, menghindari resiko cedera atau kena akumulasi kartu.
Apalagi meski berangkat dengan kekuatan penuh sekalipun, kekuatan Persidafon yang tahun ini dibesut pelatih Fredy Muli bukan main tangguhnya. Ada Elie Aboy dan Purwanto di barisan penggempur. Octavianus Maniani di sayap. Didukung oleh Uston Nawawi sebagai jenderal lapangan tengah, dan Bejo Sugiantoro sebagai palang pintu pertahanan. Keberadaan pemain asing macam Isaac Owagai dan Hendry Visa makin mengintimidasi tim lawan. Belum lagi sederet talenta lokal asal Papua yang terkadang belum dikenal namanya, tapi memiliki permainan yang high skill dan full speed.
Sangat pantas jika Persidafon dimasukkan sebagai pesaing berat PSIS di grup Tengah ini. Dan sungguh sangat menarik menakar nyali management PSIS saat nanti PSIS mendapat jadwal away melawan Persidafon. Apakah berani berangkat dengan kekuatan penuh dan mentargetkan poin, atau dengan pertimbangan tertentu akan melakukan skenario efisiensi biaya dan melepas poin demi kepentingan selanjutnya yang lebih besar. Kalaupun management memilih skenario mengistirahatkan pemain utama, menurut penulis itu sah sah saja asalkan kehilangan poin di Dafonsoro sudah dikalkulasi dalam grand skenario pencapaian klasemen akhir.
Dalam kalkulasi head to head melawan Persidafon ini, maka PSIS dihitung menang di kandang dan kalah di away. Sehingga mendapatkan 3 poin saja.
PESAING SETARA (7 poin)
Masuknya tim Pro Duta dalam kategori ini, karena selain berdasarkan kekuatan finansial dan ambisi dari pemiliknya, Sihar Sitorus, juga berdasarkan materi pemain dan pelatih yang dimilikinya. Satu satunya kelemahan Pro Duta adalah belum besarnya kekuatan pendukung alias suporter fanatik yang berada dibelakang mereka. Maklum mereka adalah tim dari Bandung yang mencoba merantau di tanah Sleman.
Kekuatan Sihar Sitorus dalam lobi tingkat tinggi dengan petinggi Liga Indonesia bisa dilihat dari keberhasilan mereka memindahkan homebase dari Bandung ke Sleman. Artinya dengan sadar mereka menghitung peluang di wilayah Tengah lebih besar dibanding harus bersaing di wilayah Barat, sehingga pindah ke Sleman. Bisa juga untuk menghindar agar tidak 1 wilayah dengan PSMS Medan yang musim kemarin dikelola oleh Sihar Sitorus. Meski demikian, sekedar info saja, Pro Duta sepertinya cukup kaget jika PSIS yang baru saja terdegradasi dari Liga Super akibat krisis dana, ternyata musim ini langsung bangkit dan menyusun kekuatan yang cukup bagus. Disangkanya PSIS musim ini masih didera krisis dan belum bisa bangkit alias berpartisipasi tanpa target.
Kebangkitan Pro Duta tak lepas dari kiprah pelatih berlisensi A standar UEFA, yaitu Kostadin Angelov asal Bulgaria, yang pernah tercatat sebagai coach termuda yang menangani sebuah tim di Liga Utama Bulgaria. Dengan kejeliannya coach ini mengumpulkan kekuatan dari legiun asing seperti Tarik El Janaby dan Emalue Serge untuk dipadukan dengan talenta lokal macam Galih Sudaryono yang pernah menjadi kiper timnas U-23, dan beberapa pemain lokal lain yang sudah kenyang pengalaman di divisi utama bahkan Liga Super, yaitu; Eka Santika, Mandagi, M Fadli dll.
Pada saat digelar partai PSIS melawan Pro Duta, perlu dipastikan bahwa seorang Gustavo Chena yang pernah menjadi anak buah Sihar Sitorus mampu bermain all out dan memberi kontribusi penuh untuk PSIS, tanpa mempedulikan hubungan batin dengan mantan bos-nya semasa masih di PSMS Medan itu. Karena Chena saat ini adalah pahlawan PSIS.
Jika Deltras Sidoharjo juga dimasukkan dalam kategori pesaing setara, tentu semua pembaca bisa maklum. Sebagai sesama eks penghuni Liga Super yang terdegradasi, maka Deltras tentulah berusaha untuk kembali masuk ke kasta tertinggi dalam persepakbolaan nasional. Dan ambisinya itu bakal segera direalisasikan secepatnya.
Mempercayakan Nus Yadera sebagai pelatih, Deltras mengumpulkan banyak pemain bagus untuk bergabung dalam skuadnya musim ini. Ada Kornelis Kaimu yang pernah menjadi pemain timnas, gelandang serang Ferry Aman Saragih yang musim kemarin mencetak 7 gol saat memperkuat Mitra Kukar. Juga penyerang lokal Satyo Husodo yang musim lalu mencetak 4 gol di kompetisi Divisi utama. Ditambah 3 legiun asingnya; Adolfo Kwateh (striker), Adolfo Marshal (belakang), dan Sackie Doe (gelandang).
Faktor non teknis yang tak boleh diabaikan adalah persaudaraan antara Deltras dan Mitra Kukar karena kepemilikan alias pengelolanya berasal dari keluarga besar yang sama. Jangan heran jika kedua tim ini akan saling bantu membantu pada saat salah satu dari mereka punya peluang, maka tim yang sudah tidak berpeluang akan melepas kepentingan demi saudaranya.
Dalam kalkulasi penulis, PSIS akan mampu meraih 4 poin alias menang di kandang atas Pro Duta dan seri di partai tandang, dan hanya 3 poin dari Deltras alias PSIS menang di partai kandang dan kalah di partai tandang. Total meraih 7 poin.
PESAING KUDA HITAM (8 poin)
Secara materi dan teknis, tim yang dikategorikan sebagai kuda hitam adalah Gresik United yang ditukangi Sasi Kirono, dan Mitra Kukar yang dikomandani Mustaqim. Mitra Kukar mendapat keuntungan geografis karena bermarkas di bumi Kalimantan, yang untuk mencapainya diperlukan perjalanan yang jauh dan menguras stamina tim tamu. Sedangkan Gresik United secara tradisional menjadi representasi tim tim asal Jawa Timur yang selalu kuat dan diperhitungkan di persepakbolaan tanah air dalam 1 dasawarsa terakhir ini.
Mitra Kukar prestasinya tidak bisa disepelekan dalam kancah divisi utama. Musim kemarin Mitra Kukar masuk babak 8 besar setelah menjadi urutan ke 3 dari 15 tim di grup Barat. Bahkan di babak 8 besar yang dibagi dalam 2 grup lagi beranggotakan 4 tim, Mitra Kukar sanggup mengalahkan Persebaya dan gagal masuk semifinal akibat kalah selisih goal dengan Persebaya. Jika yang diberlakukan adalah aturan head to head, bukan tak mungkin saat ini Mitra Kukar sudah nangkring di Liga Super.
Musim ini Mitra Kukar berbenah dengan mengontrak pemain asing Ever Barientos (striker) yang eks Persebaya, dan mempertahankan stopper tangguh sekaligus kapten mereka, Abunaw Cletus Lapula. Juga mendatangkan kiper Kurnia Sandi. Dan soliditas tim tetap terjaga karena pilar pilar musim lalu seperti kiper Agung Prasetyo, bek M Huda, dan gelandang Rendy Irawan, Rahmad Wahyudi, serta Made Astawa masih dipertahankan.
Untuk Gresik United, tim yang sempat diundang menjadi tim tamu di turnamen Piala Kampoeng Semawis tapi mundur karena 2 legiun asingnya masih mengurus KITAS di Afrika, yaitu Onambele Jules Basile dan Angel Ebus ini, masih mempertahankan Bernard Mamadou sebagai andalan, meski Mamadou masih memiliki kasus dengan kepolisian. Kekuatan GU cukup solid dengan keberadaan pemain lokal semacam Heri Purnomo, Ali Usman, Basuki, Khabib Sukron, Usman Pribadi, Khusnul Khuluq dll.
Dalam kalkulasi penulis, PSIS dari 2 laga kandang melawan GU dan Mitra Kukar akan meraih hasil 2x menang. Dan saat menjalani laga tandang akan meraup 2 poin dari hasil 2x bermain seri. Total meraih 8 poin.
PESAING SEDANG (29 poin)
Bukan berarti meremehkan lawan jika saat menghadapi Persikad Depok, Persikota Tangerang, Persikab Bandung, Persiba Bantul, Persis Solo dan PPSM Sakti Magelang, maka PSIS berani mentargetkan angka penuh di kandang lawan. Karena berdasarkan pengamatan atas tim tersebut ataupun evaluasi karena PSIS sudah pernah beruji coba dengan mereka, kekuatan tim tim tersebut tidak diatas PSIS.
Meski demikian terlalu jumawa jika penulis berani memprediksi perolehan 36 poin penuh dalam 6 partai kandang dan 6 partai tandang yang akan dimainkan PSIS melawan tim yang dikategorikan sebagai pesaing sedang tersebut. Kenapa? Karena dalam perjalanan kompetisi, ada banyak hal serta faktor yang mempengaruhi, misalnya soal jadwal, soal cedera pemain, atau absennya pemain akibat kena akumulasi kartu. Itu semua belum bisa diprediksi saat kompetisi belum dimulai. Belum lagi grafik performa tim yang bisa saja tidak konsisten saat kompetisi berlangsung.
Dengan demikian meskipun diatas kertas seharusnya PSIS mampu mengatasi pesaingnya tersebut, tetaplah dalam kalkulasi diperhitungkan ada prediksi yang meleset. Yaitu ada 1 partai kandang yang berakhir draw, sementara sisanya 5x semuanya dimenangkan PSIS. Kemudian dari 6x partai tandang, diprediksi 4x menang, 1x kalah, dan 1x draw. Total poin yang dikumpulkan PSIS dengan 6 tim yang dikategorikan pesaing sedang adalah 29 poin.
Kemungkinan kalah bisa terjadi saat PSIS melakukan laga away melawan Persikad Depok yang ditukangi oleh coach Meiyadi Rakasiwi. Buruknya faktor lapangan yang tidak rata, bisa jadi membuat permainan PSIS tidak berkembang, dan dimanfaatkan oleh tim tuan rumah yang sudah terbiasa bermain di lapangan jelek tersebut.
Bisa juga mengalami kebuntuan pada saat melawat di kandang Persiba Bantul yang sejak ditangani oleh coach Eduard Tjong yang menggantikan Rully Nere mengalami tren positif. Permainan Seto Nurdiantoro bersama pasukan Laskar Sultan Agung makin mengkilap. Didukung Wahyu Wijiastanto (eks Persis), Febi Martika, Wahyu Tri Harjanto, Nopendi, dan pemain asing Luchiano Theiler, maka kekuatan Persiba Bantul layak diwaspadai. Jangan lupa musim lalu Persiba Bantul juga lolos ke babak 8 besar divisi utama meskipun gagal promosi ke Liga Super.
--------- Bravo PSIS ---------
Demikianlah analisa serta kalkulasi peluang PSIS Semarang dalam menyongsong kompetisi divisi utama 2009/2010. Memang berat, karena semua pesaing juga mempersiapkan diri dengan baik. Akan tetapi penulis sangat yakin bahwa kekompakan tim yang terus dimatangkan oleh pelatih Achmad Muhariah akan mencapai peak performance nya saat kompetisi bergulir. Jangan pernah ragu akan kualitas seorang Cristiano Lopes, Gustavo Chena, Imral Usman, Suwitha Pata, Denny Rumba, dll. Dukungan penuh dari management dibawah komandan Johar Lin Eng serta pendekatan yang sangat manusiawi ala manager tim Setyo Agung Nugroho terhadap pemain, diyakini mampu menciptakan suasana kondusif yang berpengaruh positif terhadap prestasi tim, yang mentargetkan diri untuk promosi ke Liga Super musim depan.
Belum lagi dukungan di tribun penonton dari organisasi suporter semacam Panser Biru, Snex, dan ribuan penonton tanpa atribut yang sangat dahaga menyaksikan kebangkitan prestasi tim kesayangannya. Bahkan munculnya Suporter Plus yang beraliansi dengan PCSC (PSIS Cyber Suporter Community) yang berniat memberdayakan serta memfasilitasi Panser Biru dan juga Snex saat mendukung laga PSIS dalam partai tandang diluar kota, semakin menunjukkan betapa banyaknya elemen masyarakat yang mendukung PSIS.
Dan harapan besar semua masyarakat bola kota Semarang terhadap goodwill dari eksekutif dan legislatif terhadap ikon sepakbola kota Semarang, dalam bentuk dana hibah untuk PSIS yang disalurkan melalui KONI Kota Semarang, itu adalah oksigen yang akan membuat semua sendi sendi di tubuh PSIS berjalan dengan lancar dan normal. Baik pelatih, pemain, offical, dan juga management sangat membutuhkan kepastian tersedianya amunisi hibah dari APBD tersebut. Semoga tokoh tokoh teras PSIS yang berada di posisi legislatif seperti Yoyok Sukawi, Danur Risprianto, serta Edy Purwanto, diharapkan mampu menjembatani cairnya dana hibah tersebut. Tanpa amunisi penting tersebut, prestasi yang diharapkan niscaya semakin jauh dari jangkauan.
Akhirnya kita semua sama-sama berharap agar prestasi PSIS musim ini bisa berkibar, dan berhasil mencapai target yang dicanangkan oleh management, yaitu promosi ke Liga Super. Bravo PSIS !!
Penulis: Ari Wibowo (Pengamat Sepakbola Semarang, Eks Manajer Operasional PSIS)
Semua orang pasti akan menyambut datangnya sukses dengan tangan
terbuka. Sebaliknya, banyak orang akan berusaha agar tidak mengalami
kegagalan. Kenyataannya, sukses dan gagal merupakan "satu paket" yang
tidak bisa dipisahkan. Lalu, mengapa kita harus takut pada kegagalan?
Yang perlu kita ketahui adalah apa yang harus kita lakukan ketika
kegagalan datang. Simak yang berikut.
Jika kita sadar bahwa kegagalan itu merupakan bagian dari sukses dan
kegagalan merupakan guru yang terbaik, maka kita tidak akan takut
ketika kegagalan datang.
Hidup kita seolah berada di sebuah Perahu yang berada di tengah
samudra luas. Perlu perjuangan untuk membuat perahu tersebut melaju
menuju pulau impian yang kita tuju. Jika tidak, Perahu hanya akan
terombang-ambing entah kemana. Kita perlu terus menjadikan Perahu
bergerak dan mengarahkannya ke arah pulau impian kita. Namun, kadang
badai datang, membuat Perahu kita
oleng bahkan hampir tenggelam.
Namun perahu kehidupan memiliki sebuah keajaiban. perahu kehidupan
tidak akan pernah tenggelam selama kita memiliki harapan. Oleng
mungkin tetapi tenggelam tidak jika kita masih memiliki harapan bahwa
kita akan sampai ke tujuan yang kita impikan. Jika badai begitu lama
menggoncang perahu kita, jangan pernah menyerah, karena menyerah
adalah satu cara pasti perahu kita
tenggelam. Harapan, membuat perahu kita tidak akan pernah hancur
dihantam gelombang dan tidak akan membuat perahu kita karam.
Lalu, dari mana datangnya harapan? Harapan ada pada diri kita, sebab
tidak ada badai yang melebihi kekuatan diri kita. Sebesar-besarnya
badai masih dibawah kemampuan kita semua. Tuhan telah memberikan
kekuatan yang sangat dahsyat pada diri kita atau mendatangkan badai
yang besarnya masih ada dibawah kemampuan kita. Tuhan tidak pernah
memberikan cobaan yang melebihi
kemampuan kita.
Jagalah harapan bahwa selalu ada jalan keluar. Yakinlah bahwa kita
bisa bertahan. Pasti ada sesuatu hikmah besar dibalik kesulitan yang
kita hadapi. Semakin besar kesulitan, mungkin semakin besar dan
bernilai hikmah yang akan
kita dapatkan nanti. Jagalah harapan, karena badai pasti berlalu.
yakinlah Pada Badai yang datang menghampiri kita adalah sebuah media
pelatihan diri untuk mencapai apa yang kita inginkan. Orang tidak akan
pintar jika tidak di latih, dan Badai yang menghampiri hidup kita
adalah media pendidikan yang tepat, yang dikirim tuhan agar kita siap
untuk menajadi sukses, Tidak ada orang pintar tanpa pendidikan, Tidak
Ada orang yang bisa menyanyi tanpa latihan, Burung Elang yang perkasa
tidak akan bisa terbang tinggi tanpa terjatuh.
Maka Persiapkan Perahu kita untuk dapat menembus Badai Kehidupan yang
akan menerjang kita dari arah yang tidak bisa di prediksi. Karena
biasanya setelah badai akan ada hari yang indah. Walau terkadang
jawaban dari tuhan
tidak seperti yang kita harapkan, tetapi keindahan akan kita dapatkan
jika kita menyadarinya
Anda tahu dan pernah lihat bunga teratai?
Itu bunga yang hidupnya di atas air yang tenang dan kotor, dimana banyak serangga dan sumber penyakit hidup. Daunnya yang besar terapung di atas air dan dijadikan tempat loncatan kodok.
Dengan kondisi yang sedemikian kotornya, orang akan menganggapnya sebagai yang tidak berharga dan kotor, yang tidak pantas untuk diraih karena demikian kotornya tempat ia hidup.
Tapi tahukah Anda, bunga teratai mempunyai bunga yang sangat indah dan bersih, bertolak belakang dengan lingkungannya yang kotor. Dia tampil dengan keindahan bunganya yang sangat menawan bagi yang melihatnya. Dia hidup dengan keindahan dan kebersihan yang demikian tanpa dipengaruhi oleh lingkungannya yang kotor. Betatapun kotornya tempat dia hidup, tapi keindahannya tetap terjaga dengan baik. Bahkan lingkungannya yang ingin merusak dirinya, bunga teratai tetap tumbuh dengan indahnya tanpa merusak lingkungannya.
Kehidupan kita juga ibaratkan bunga teratai, yang hidup di lingkungan yang terkadang dan bahkan tidak bersahabat dengan kita. Tidak jarang, alam sekitar memaksa kita untuk menerima dan menyesuaikan dengan lingkungannya.
Manusia dilahirkan sebagai makhluk dengan keindahan dan kesempurnaan yang akan membawa kebaikan bagi lingkungan dan alam sekitarnya. Keindahan manusia akan terlihat dari seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap dirinya.
Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa dirinya yang indah dipengaruhi oleh lingkungan yang menjadikannya tidak lagi indah dan bersahaja. Banyak orang yang tadinya merupakan panutan bagi orang lain, tapi menjadi parasit kemudian.
Seberapa besarkah Anda bisa bertahan di lingkungan Anda yang demikian kotornya. Apakah Anda akan membiarkan diri Anda kotor untuk bisa diterima oleh lingkungan Anda, atau Anda akan memeprlihatkan kepada lingkungan Anda bahwa Anda adalah orang yang bersahaja walaupun Anda berada dilingkungan yang kotor.
Jadilah Anda sebagai bunga teratai, walaupun Anda hidup di lingkungan yang kotor. Jadilah Anda yang anggun walaupun lignkungan ingin merusak Anda, dan jadikanlah Anda sebagai yang akan menentukan kualitas lingkungan Anda.
